SDN 04 Banyumas Tanamkan Cinta Budaya Sejak Dini Lewat Literasi Kearifan Lokal

SDN 04 Banyumas Kecamatan Curup Tengah Kabupaten Rejang Lebong (foto; joko/nuansabengkulu.com)

REJANG LEBONG – SDN 04 Banyumas Kecamatan Curup Tengah Kabupaten Rejang Lebong terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dengan mengembangkan program literasi dan numerasi berbasis kearifan lokal. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan dasar siswa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai budaya daerah sejak usia dini.

Kepala SDN 04 Banyumas, Yanti Supriyanti, menjelaskan bahwa pihak sekolah secara khusus menekankan literasi yang berkaitan dengan budaya Suku Rejang Lebong. Hal ini dilakukan sebagai bentuk upaya pelestarian budaya di tengah arus modernisasi yang semakin pesat.

“Alhamdulillah di sekolah kami sudah membuat literasi dan numerasi untuk anak-anak. Literasi di sini kami lebih menekankan kepada kearifan lokal, agar siswa tidak hanya pintar membaca, tetapi juga memahami budaya daerahnya,” ujar Yanti, Kamis (02/04/2026)

Dalam pelaksanaannya, siswa diperkenalkan dengan berbagai unsur budaya, mulai dari rumah adat, alat musik tradisional, hingga aksara Kaganga lengkap dengan cara membaca dan menulisnya. Menurut Yanti, pengenalan ini dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan tingkat kelas siswa.

“Kami ingin mengenalkan adat istiadat Suku Rejang Lebong, dimulai dari hal yang paling dekat seperti rumah adat, kemudian alat musik tradisional, sampai ke tulisan Kaganga dan bacaannya. Ini penting agar anak-anak memiliki identitas budaya yang kuat,” jelasnya.

Program ini diterapkan secara menyeluruh, mulai dari siswa kelas satu hingga kelas enam. Dengan demikian, setiap siswa yang lulus dari SDN 04 Banyumas diharapkan telah memiliki bekal pengetahuan tentang adat dan budaya lokal.

Yanti menambahkan, keberadaan program literasi berbasis budaya ini juga menjadi sarana pembelajaran yang lebih menarik bagi siswa. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dipraktikkan secara langsung dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.

“Dengan adanya literasi ini, anak-anak bisa melihat setiap hari, membaca, dan mempraktikkannya. Insya Allah akan lebih cepat dipahami dan melekat dalam ingatan mereka,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa aksara Kaganga merupakan salah satu warisan berharga yang tidak dimiliki oleh semua daerah di Indonesia. Aksara ini memiliki ragam bentuk, seperti aksara buatuai dan aksara ngimbang, yang menjadi bagian dari sejarah panjang masyarakat Rejang.

“Ini adalah peninggalan sejarah kita yang harus dijaga. Tidak semua daerah punya aksara seperti ini, jadi sudah seharusnya kita bangga dan melestarikannya,” tegasnya.

” Kami berharap dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat serta kecintaan terhadap budaya daerah,” pungkasnya. (Jk)

Exit mobile version