Ada sebuah paradoks yang perlu kita renungkan.
Ketika hujan turun deras, sebagian wilayah menghadapi genangan dan banjir. Namun beberapa waktu kemudian, ketika hujan berkurang dan kemarau berlangsung lebih panjang, persoalan berubah menjadi kekurangan air.
Bagaimana mungkin dua kondisi yang tampaknya berlawanan terjadi pada wilayah yang sama?
Jawabannya salah satunya terletak pada cara kita mengelola air.
Air hujan yang turun belum tentu menjadi cadangan. Jika sebagian besar air segera mengalir sebagai limpasan menuju sungai dan akhirnya ke laut, maka hanya sebagian yang tersimpan di tanah, embung, kolam, waduk atau sumber air lainnya.
Ketika hujan berhenti, cadangan itulah yang kemudian kita butuhkan.
Kita Sering Melihat Air Terlalu Terlambat
Selama ini air sering dilihat berdasarkan masalah yang muncul.
Ketika banjir, kita bicara tentang kelebihan air.
Ketika kemarau, kita bicara tentang kekurangan air.
Padahal keduanya merupakan bagian dari satu siklus yang sama.
Air yang turun sebagai hujan harus memiliki ruang untuk ditahan, meresap dan disimpan.
Jika ruang tersebut semakin sedikit, air akan lebih cepat mengalir.
Akibatnya, ketika hujan deras risiko banjir meningkat, sementara ketika hujan berhenti cadangan air cepat berkurang.
Karena itu, persoalan tata air tidak cukup diselesaikan dengan membuang air secepat mungkin.
Kita juga harus belajar menyimpan air ketika air tersedia.
Bengkulu Memiliki Modal Alam yang Besar
Bengkulu memiliki kawasan hutan, daerah pegunungan, sungai dan daerah aliran sungai yang berperan penting dalam siklus hidrologi.
Kawasan hulu dan tutupan vegetasi membantu mengatur perjalanan air.
Ketika kondisi lingkungan masih baik, air hujan memiliki peluang lebih besar untuk meresap dan tersimpan di dalam tanah.
Cadangan tersebut kemudian dapat membantu mempertahankan aliran sungai dan sumber air ketika periode tanpa hujan berlangsung.
Karena itu, perlindungan hutan dan kawasan hulu seharusnya tidak hanya dilihat sebagai agenda konservasi.
Ia juga merupakan investasi jangka panjang untuk ketahanan air.
Jangan Salah Memahami Hujan
Tingginya curah hujan tidak otomatis berarti suatu daerah aman dari kekeringan.
Yang lebih penting adalah bagaimana hujan tersebut didistribusikan dan bagaimana air yang turun disimpan.
Hujan yang sangat deras dalam waktu singkat dapat menghasilkan limpasan besar.
Sebaliknya, hujan dengan intensitas dan distribusi yang lebih sesuai dapat memberikan kesempatan lebih besar bagi tanah untuk menyerap air.
Karena itu, ukuran ketahanan air tidak cukup hanya dengan melihat jumlah hujan dalam satu tahun.
Kita perlu melihat pola hujan, kondisi daerah tangkapan, kapasitas penyimpanan dan kebutuhan air masyarakat.
Perubahan Iklim Membuat Kita Tidak Bisa Terlalu Nyaman
Fenomena seperti El Niño dan Indian Ocean Dipole atau IOD dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia.
Perubahan iklim juga meningkatkan ketidakpastian terhadap kondisi hidrometeorologi.
Kita tidak dapat memastikan bahwa pola yang kita alami selama beberapa dekade terakhir akan selalu berlangsung dengan cara yang sama.
Karena itu, perencanaan sumber daya air perlu memperhitungkan ketidakpastian.
Jangan membangun sistem berdasarkan asumsi bahwa hujan akan selalu datang sesuai pola masa lalu.
Kita membutuhkan sistem yang lebih adaptif.
Daerah Resapan Bukan Lahan Kosong
Pertumbuhan permukiman dan pembangunan infrastruktur merupakan kebutuhan.
Namun perubahan lahan harus mempertimbangkan fungsi hidrologis.
Lahan terbuka yang berubah menjadi beton dan aspal menyebabkan kemampuan infiltrasi menurun.
Air hujan lebih cepat menjadi limpasan.
Karena itu, daerah resapan, ruang terbuka dan kawasan vegetasi perlu dipertahankan.
Kita perlu mengubah cara pandang terhadap lahan.
Ruang yang tidak dibangun bukan berarti tidak produktif.
Dalam sistem tata air, ruang tersebut dapat menjadi infrastruktur alami untuk mengendalikan limpasan dan menyimpan air.
Infrastruktur Air Tidak Harus Selalu Besar
Ketahanan air sering dikaitkan dengan pembangunan bendungan atau proyek infrastruktur besar.
Padahal solusi dapat dilakukan pada berbagai skala.
Embung dapat dibangun atau dioptimalkan sesuai karakter wilayah.
Kolam retensi dapat membantu menahan limpasan.
Pemanenan air hujan dapat diterapkan pada bangunan.
Ruang terbuka dapat dirancang untuk meningkatkan infiltrasi.
Vegetasi dapat dipertahankan di kawasan yang memiliki fungsi hidrologis penting.
Jika berbagai tindakan tersebut dilakukan secara terpadu, kapasitas sistem untuk menghadapi periode basah dan kering akan meningkat.
Pertanian Harus Menjadi Bagian dari Strategi Air
Pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air.
Perubahan pola hujan dapat memengaruhi waktu tanam dan kebutuhan irigasi.
Karena itu, petani membutuhkan informasi iklim yang bukan hanya akurat, tetapi juga mudah digunakan.
Informasi tersebut harus membantu menjawab pertanyaan praktis: kapan menanam, bagaimana mengatur air dan bagaimana mengantisipasi periode kering.
Efisiensi irigasi dan konservasi tanah juga penting agar setiap tetes air memberikan manfaat sebesar mungkin.
Pemerintah Perlu Mengelola Air Berdasarkan Data
Kebijakan air tidak seharusnya hanya bergerak ketika masalah sudah terlihat.
Pemerintah perlu memantau curah hujan, debit sungai, kondisi sumber air, kapasitas tampungan dan kebutuhan masyarakat.
Data tersebut dapat digunakan untuk membuat peta risiko kekeringan maupun banjir.
Dengan begitu, wilayah yang mulai mengalami tekanan dapat ditangani lebih awal.
Distribusi air bersih ketika terjadi kekeringan tetap diperlukan.
Tetapi jauh lebih baik jika pemerintah mengetahui potensi krisis sebelum masyarakat benar-benar kehilangan akses air.
Masyarakat Juga Perlu Mengubah Kebiasaan
Ketahanan air bukan hanya urusan pemerintah.
Masyarakat dapat memulai dari penggunaan air yang lebih efisien.
Kebocoran harus segera diperbaiki.
Sumber air harus dijaga.
Sungai tidak boleh menjadi tempat pembuangan sampah.
Vegetasi di lingkungan perlu dipertahankan.
Air hujan dapat ditampung untuk kebutuhan tertentu.
Kebiasaan sederhana tersebut menjadi penting jika dilakukan secara luas.
Dari “Membuang Air” Menjadi “Menyimpan Air”
Barangkali inilah perubahan cara berpikir yang paling penting.
Selama ini ketika hujan terlalu banyak, solusi yang sering muncul adalah bagaimana air segera dibuang.
Padahal sebagian air memang perlu dikendalikan, tetapi sebagian lainnya justru perlu disimpan.
Air yang ditahan hari ini dapat menjadi cadangan ketika hujan berhenti.
Dengan pendekatan tersebut, pengendalian banjir dan ketahanan terhadap kekeringan tidak perlu dipisahkan.
Keduanya dapat dirancang dalam satu sistem.
Bengkulu Harus Mulai Sebelum Krisis
Bengkulu tidak kekurangan modal alam.
Yang menjadi tantangan adalah bagaimana modal tersebut dipertahankan dan dikelola.
Kawasan hulu harus dijaga.
Daerah resapan harus dipertahankan.
Air hujan perlu diberi ruang untuk meresap.
Infrastruktur penyimpanan perlu diperkuat.
Pertanian harus beradaptasi.
Penggunaan air perlu lebih efisien.
Dan pemerintah harus menggunakan data untuk membaca risiko lebih awal.
Kita memang tidak dapat mengendalikan hujan.
Kita tidak dapat menghentikan El Niño.
Kita juga tidak dapat menghilangkan seluruh ketidakpastian iklim.
Tetapi kita dapat mengurangi dampaknya dengan membangun sistem tata air yang lebih tangguh.
Jangan sampai setiap hujan kita sibuk membuang air, lalu ketika kemarau datang kita sibuk mencarinya.
Air yang kita buang ketika hujan mungkin adalah air yang kita cari ketika kemarau.
Karena itu, membangun ketahanan air Bengkulu bukan pekerjaan yang dimulai ketika sumur mengering.
Ia harus dimulai ketika hujan masih turun.
Tentang Penulis
Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., adalah dosen Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung. Bidang keahliannya meliputi hidrologi, sumber daya air, pengelolaan risiko hidrometeorologi, dan tata kelola air.
