REJANG LEBONG – Keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk berkarya dan membangun kemandirian ekonomi. Hal inilah yang mulai dibuktikan kelompok disabilitas Jaya Mandiri di Desa Rimborecap, Kecamatan Curup Selatan, Kabupaten Rejang Lebong.
Dengan semangat kebersamaan dan pemberdayaan, kelompok yang beranggotakan 43 orang tersebut kini mulai mengembangkan sejumlah kegiatan produktif, mulai dari pengelolaan bank sampah hingga usaha mandiri penetasan telur itik.
Ketua Kelompok Disabilitas Jaya Mandiri, Asep Sunandar, mengatakan bahwa saat ini terdapat dua kegiatan utama yang dijalankan kelompoknya.
Pertama, usaha bank sampah yang difasilitasi oleh Pemerintah Desa Rimborecap. Kedua, usaha penetasan telur itik yang dikembangkan secara mandiri oleh kelompok sebagai upaya menciptakan sumber penghasilan sekaligus meningkatkan keterampilan anggota.
“Untuk kelompok disabilitas di Desa Rimborecap, usaha yang sekarang sedang kami jalankan adalah bank sampah yang difasilitasi pemerintah desa. Sedangkan usaha mandiri kelompok kami adalah penetasan telur itik,” ungkap Asep Sunandar, Rabu (04/11/2026) di balai Desa Rimborecap saat menghadiri kunjungan Tim SIGAB dari Pusat.
Ia menjelaskan, kelompok Jaya Mandiri saat ini memiliki 43 anggota dengan latar belakang dan kondisi yang beragam, termasuk anggota lanjut usia (lansia).
Dalam menjalankan usaha penetasan telur itik, kelompok mendapatkan pasokan telur dari peternak langsung di Tasik. Pola pengadaan tersebut dilakukan untuk mendapatkan bahan baku yang dibutuhkan dalam proses penetasan.
Sementara untuk pemasaran, hasil penetasan selama ini disalurkan kepada depot maupun konsumen berdasarkan permintaan. Bahkan, tingginya pemesanan membuat sebagian hasil penetasan sudah memiliki pembeli sebelum proses penetasan selesai.
“Kalau penyaluran, kami lebih banyak melalui depot, tetapi sekarang juga secara acak sesuai permintaan. Bahkan, banyak telur yang sudah ditetaskan itu sebelumnya memang sudah dipesan orang,” jelasnya.
Meski mulai menunjukkan perkembangan, Asep mengakui usaha tersebut masih berada dalam tahap pembelajaran dan pengembangan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah tingkat keberhasilan penetasan yang belum sepenuhnya stabil.
Sebagian anggota masih dalam proses memahami teknik penetasan sehingga potensi kegagalan masih mungkin terjadi.
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat kelompok untuk terus belajar, memperbaiki pengelolaan usaha, serta meningkatkan kemampuan anggota agar usaha yang dijalankan dapat berkembang lebih baik.
Asep berharap Pemerintah Desa Rimborecap ke depan dapat memberikan lebih lagi perhatian dan dukungan yang lebih optimal terhadap kelompok disabilitas maupun kelompok masyarakat rentan lainnya.
Baginya, dukungan pemerintah sangat penting agar kelompok disabilitas tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk beraktivitas, tetapi juga mampu mengembangkan usaha produktif, memperoleh penghasilan, dan berdiri secara mandiri.
“Kami berharap ke depan pemerintah desa bisa lebih optimal lagi memberikan perhatian, terutama kepada kelompok-kelompok rentan seperti kami. Sehingga usaha yang sudah berjalan ini bisa terus berkembang dan memberikan manfaat bagi seluruh anggota,” harapnya.
Keberadaan Kelompok Disabilitas Jaya Mandiri menjadi salah satu bukti bahwa program desa inklusi di Rimborecap mulai diarahkan tidak hanya pada pemenuhan hak dan pelayanan, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi serta peningkatan kemandirian penyandang disabilitas. (Jk)
