REJANG LEBONG – Komitmen membangun desa yang inklusif dan memberikan kesetaraan hak bagi seluruh masyarakat mulai menunjukkan hasil nyata. Desa Rimborecap, Kecamatan Curup Selatan, Kabupaten Rejang Lebong, mendapat apresiasi dari tim SIGAB Indonesia atas berbagai perubahan yang berhasil dicapai dalam pemberdayaan dan pendampingan penyandang disabilitas.
Apresiasi tersebut disampaikan Project Official SIGAB Indonesia, Margareta Widyastuti, saat melakukan kunjungan untuk melihat secara langsung perkembangan Desa Rimborecap sebelum dan sesudah menjadi bagian dari program desa inklusi melalui kerja sama dengan PMMI (Perkumpulan Mitra Masyarakat Inklusi) Bengkulu.
Margareta menjelaskan, kunjungan tersebut bertujuan mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi, khususnya dalam pemberdayaan, pendampingan, serta keterlibatan masyarakat penyandang disabilitas dalam kehidupan sosial dan pembangunan desa.
Dalam kurun waktu sekitar dua tahun pelaksanaan program, tambah Margareta, Desa Rimborecap telah memperlihatkan perkembangan yang cukup signifikan.
Jika sebelumnya sebagian penyandang disabilitas lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, minim aktivitas bersama masyarakat, bahkan jarang mengakses pelayanan di kantor desa, kini kondisi tersebut mulai berubah.
Penyandang disabilitas semakin terbuka untuk beraktivitas dan berinteraksi dengan masyarakat lainnya. Bahkan, pemerintah desa dinilai telah menunjukkan sikap terbuka dan memberikan pelayanan yang lebih ramah serta setara.
“Ini menjadi bukti bahwa inklusivitas antara warga difabel dan non-difabel di Desa Rimborecap sudah berjalan cukup baik. Ada perubahan dalam cara pandang masyarakat maupun pemerintah desa terhadap saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” ungkap Margareta.
Ia juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Desa Rimborecap yang tetap memberikan dukungan anggaran bagi program pemberdayaan dan keterlibatan penyandang disabilitas, meskipun pemerintah saat ini menghadapi kebijakan efisiensi anggaran.
Dukungan tersebut menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas telah ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan desa, bukan sekadar kelompok masyarakat yang hanya membutuhkan perhatian.
Margareta berharap, ke depan keterlibatan penyandang disabilitas tidak hanya terbatas pada kegiatan sosial maupun pelatihan, tetapi juga diberikan ruang yang lebih luas dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan desa.
Ia menegaskan, penyandang disabilitas harus memiliki kesempatan dan hak yang sama seperti warga lainnya, termasuk dalam memanfaatkan fasilitas umum dan mendapatkan pelayanan pemerintahan.
Selain pemberdayaan masyarakat, ia juga mendorong agar pembangunan infrastruktur desa ke depan semakin memperhatikan aspek aksesibilitas. Salah satunya melalui penyediaan fasilitas ramah disabilitas seperti bidang miring atau ramp yang dapat memudahkan pengguna kursi roda.
Namun, menurutnya, pembangunan dengan konsep aksesibilitas universal (universal design) sejatinya bukan hanya diperuntukkan bagi penyandang disabilitas, melainkan juga memberikan kemudahan bagi lansia, ibu hamil, anak-anak, dan seluruh lapisan masyarakat.
“Yang paling penting, penyandang disabilitas juga harus dilibatkan dalam proses pembangunan dan pengujian fasilitas tersebut. Sebab, mereka yang paling memahami apakah fasilitas yang dibangun sudah aman, nyaman, dan benar-benar bisa digunakan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Rimborecap, Agusman, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terwujudnya desa inklusi di wilayahnya.
Ia menyebutkan, program tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari tim Solidaritas Inklusif dari Australia, SIGAB Indonesia, SIGAB Yogyakarta, hingga PMMI Bengkulu.
Menurut Agusman, penetapan Desa Rimborecap sebagai desa inklusi telah membawa perubahan dalam pola pikir dan perhatian pemerintah desa terhadap masyarakat penyandang disabilitas.
Jika sebelumnya perhatian terhadap kebutuhan saudara-saudara penyandang disabilitas masih terbatas, kini pemerintah desa mulai berupaya memastikan hak dan kewajiban mereka turut diperhatikan serta dilibatkan dalam berbagai kegiatan pembangunan.
“Pertama, kami mengucapkan terima kasih kepada tim Solidaritas Inklusif dari Australia yang bekerja sama dengan Indonesia, kemudian SIGAB Yogyakarta, SIGAB Indonesia, serta mitra kami PMMI Bengkulu. Dengan ditetapkannya desa kami sebagai desa inklusi, ini menjadi hal yang sangat luar biasa,” ungkap Agusman.
Ia menambahkan, melalui pendampingan dan pembinaan yang dilakukan, pemerintah desa semakin memahami pentingnya memberikan kesempatan yang sama kepada penyandang disabilitas, baik dalam pelayanan pemerintahan, kegiatan kemasyarakatan maupun pembangunan desa.
Ke depan, Pemerintah Desa Rimborecap berharap program desa inklusi dapat terus berlanjut dan semakin berkembang, sehingga tidak ada lagi warga yang merasa terpinggirkan karena keterbatasan fisik maupun kondisi lainnya.
” Kami berupaya membuktikan bahwa pembangunan desa bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana setiap warga mendapatkan kesempatan, penghormatan, pelayanan, dan hak yang sama sebagai bagian dari masyarakat,” pungkas Kades. (Jk)
