Rejang Lebong – Sejumlah pedagang di kawasan Kuliner Setia Negara, Curup, mengeluhkan tagihan sewa kios yang dinilai mendadak dan memberatkan. Keluhan tersebut muncul setelah para pedagang menerima Surat Peringatan (SP) 1 dengan total tagihan mencapai Rp1.350.000, padahal selama beberapa bulan terakhir tidak ada penagihan rutin dari pihak terkait.
Salah seorang pedagang mengaku selama ini pembayaran sewa kios selalu ditagih setiap bulan. Namun, dalam beberapa bulan terakhir penagihan tidak dilakukan hingga akhirnya para pedagang menerima surat peringatan beserta akumulasi tagihan.
“Biasanya setiap bulan ada penagihan. Tapi beberapa bulan ini tidak ada lagi. Tiba-tiba sekarang keluar SP 1 dengan tagihan Rp1.350.000. Kami tidak sanggup membayar sebesar itu karena kondisi usaha saat ini hanya gali lubang tutup lubang,” ujarnya, Rabu (29/07/2026)
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lainnya. Menurut mereka, besarnya biaya sewa tidak sebanding dengan kondisi fasilitas di kawasan pasar kuliner yang dinilai masih jauh dari memadai.
“Kalau hujan banjir, kalau kemarau berdebu, malam hari juga gelap karena penerangan kurang. Kami berharap retribusi ini bisa ditinjau kembali,” katanya.
Pedagang membandingkan besaran retribusi di kawasan Kuliner Setia Negara dengan Pasar Atas maupun Pasar Bang Mego. Menurut mereka, pedagang di kedua lokasi tersebut hanya membayar retribusi sekitar Rp10.7000, sementara aktivitas perdagangan di sana jauh lebih besar dibandingkan pedagang kuliner.
“Di Bang Mego atau Pasar Atas pedagangnya jualan dalam jumlah besar, sedangkan kami hanya pedagang kecil. Namun beban yang kami tanggung justru lebih berat,” ungkapnya.
Selain mempertanyakan besaran tagihan, para pedagang juga mengeluhkan minimnya fasilitas dan keamanan. Mereka mengaku beberapa kali kehilangan barang dagangan, seperti payung dan tabung gas, tanpa adanya jaminan keamanan dari pengelola.
Para pedagang juga mempertanyakan penggunaan dana pembayaran kios yang selama ini mereka setorkan. Pasalnya, perawatan kawasan dinilai hampir tidak pernah dilakukan. Bahkan, untuk membersihkan rumput di sekitar lokasi, para pedagang harus bergotong royong menggunakan biaya dan tenaga sendiri.
“Kami ingin tahu pembayaran kios yang selama ini kami bayarkan digunakan untuk apa. Perawatan tidak ada, bahkan membersihkan rumput saja kami lakukan sendiri secara gotong royong,” ujar salah seorang pedagang.
Mereka juga menyoroti masih adanya sejumlah kios yang tidak dimanfaatkan untuk berjualan, melainkan dijadikan gudang penyimpanan barang. Kondisi tersebut dinilai mengurangi fungsi kawasan pasar kuliner.
” Kami berharap Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong melalui dinas terkait dapat mengevaluasi sistem penagihan, meninjau kembali besaran sewa kios, meningkatkan fasilitas dan keamanan, serta menata kembali kawasan Kuliner Setia Negara agar lebih layak dan mampu menarik minat masyarakat untuk berkunjung,” tutupnya. (Jk)
