Rejang Lebong – Pagi itu, di sebuah warung kopi sederhana di pusat Kota Curup, seorang jurnalis media online lokal duduk termenung di depan laptopnya.
Sorot matanya menunjukkan gurat lelah, namun semangatnya tak pudar. Ia sedang bergulat dengan kata-kata, merangkai kalimat yang akan mengabarkan pergantian bupati di daerahnya.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya transisi politik biasa. Namun, bagi jurnalis ini, pergantian kepemimpinan adalah sebuah ujian. Ujian bagi idealisme, independensi, dan keberlangsungan media lokal di tengah pusaran kepentingan dan tekanan.
“Setiap kali kepala daerah berganti, selalu ada ekspektasi agar media bisa ‘menyesuaikan diri’,” ujarnya. “Ada yang berharap kita lebih lunak, ada juga yang terang-terangan ingin kita menjadi corong pemerintah.”
Ia paham betul, godaan untuk tunduk pada kepentingan penguasa selalu ada. Namun, ia memilih untuk tetap teguh pada prinsip jurnalisme yang ia yakini. Baginya, tugas jurnalis adalah menjaga keseimbangan informasi, bukan menjadi alat propaganda siapa pun.
Sikapnya ini tentu saja tidak selalu berbuah manis. Ia pernah mengalami pemblokiran akses informasi, bahkan mendapat peringatan dari pihak-pihak tertentu agar lebih “berhati-hati” dalam menulis.
“Kadang ada narasumber yang tiba-tiba sulit dihubungi. Ada berita yang seharusnya bisa tayang cepat, malah tersendat karena ada intervensi,” ungkapnya.
Namun, ia tidak gentar. Baginya, tekanan dan tantangan adalah bagian dari dinamika dunia jurnalistik. “Kalau kita tunduk, lama-lama media akan kehilangan kepercayaan publik,” katanya.
Pergantian bupati di Rejang Lebong kali ini tidak hanya membawa perubahan di lingkungan pemerintahan, tetapi juga mengguncang ekosistem media lokal. Beberapa media yang sebelumnya mendapat dukungan dari pemerintah lama kini harus beradaptasi dengan kebijakan baru. Anggaran untuk media mengalami pergeseran, dan sejumlah kontrak kerja sama tidak diperpanjang.
“Ini berarti kami harus lebih mandiri dan kreatif dalam bertahan,” kata jurnalis tersebut. Ia menambahkan bahwa media kecil seperti tempatnya bekerja harus berpikir lebih inovatif untuk tetap hidup, terutama dalam mencari sumber pendapatan di tengah perubahan ini.
Transisi ini juga membawa perubahan dalam pola kerja jurnalistik. Akses ke pejabat baru masih terbatas, sementara pejabat lama yang sebelumnya terbuka terhadap media mulai menarik diri. “Ini seperti masa penyesuaian. Kita harus pintar membaca situasi, tapi tetap teguh dengan prinsip,” ujarnya.
Di tengah segala ketidakpastian ini, para jurnalis di Rejang Lebong tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa jurnalisme harus tetap independen. Meski tekanan datang dari berbagai sisi, mereka memilih untuk tetap meliput dengan adil dan berimbang.
“Selama masih ada yang perlu diberitakan, saya akan tetap menulis. Tidak peduli siapa yang berkuasa,” tegas jurnalis tersebut.
Ia menyadari bahwa apa yang ia tulis dapat berdampak besar bagi masyarakat, dan itulah yang membuatnya terus bertahan meski gelombang perubahan terus menerpa.
Di sudut warung kopi itu, ia kembali menatap layar laptopnya. Satu berita lagi harus tayang hari ini. Pergantian bupati mungkin membawa banyak perubahan, tetapi satu hal yang tetap, semangatnya sebagai jurnalis yang tak gentar menghadapi tekanan.(Jk)