REJANG LEBONG – Lapas Kelas IIA Curup terus mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan lahan yang tersedia di lingkungan lapas. Program tersebut tidak hanya bertujuan menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembinaan keterampilan bagi warga binaan sebagai bekal setelah bebas nantinya.
Kepala Lapas Kelas IIA Curup, Untung Cahyo Sidharto, mengatakan pihaknya memanfaatkan lahan di sekitar lapas, khususnya area luar, untuk ditanami berbagai jenis sayuran dan tanaman produktif.
“Kami memanfaatkan lahan-lahan yang ada di sekitaran lapas, khususnya di luar, dengan ditanami berbagai macam sayuran seperti kangkung darat, cabai, labu siam dan tanaman lainnya,” ujar Untung, (10/06/2026) di lahan ketahanan pangan lingkungan lapas Curup
Ia menjelaskan, lahan yang dikelola memiliki kurang lebih sekitar 2.000 meter persegi. Dalam pelaksanaannya, warga binaan dilibatkan secara langsung untuk mengelola lahan tersebut sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian.
Menurutnya, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk belajar dan memahami cara bercocok tanam yang baik dan benar. Selain itu, hasil pertanian yang diperoleh nantinya juga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Tak hanya itu, warga binaan yang terlibat dalam program tersebut juga akan memperoleh premi upah dari hasil kegiatan yang dilakukan. Premi tersebut nantinya disimpan melalui kerja sama dengan pihak perbankan sebagai tabungan bagi warga binaan.
“Kalau sudah menghasilkan, mereka juga mendapatkan premi yang bekerja sama dengan pihak BRI untuk menyimpan premi yang sudah diterima,” jelasnya.
Untung dikerahui, tidak semua warga binaan dapat mengikuti program ketahanan pangan yang dilakukan di luar lapas. Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, di antaranya telah menjalani setengah masa pidana, berkelakuan baik, serta memiliki keterampilan atau minat di bidang pertanian.
Sementara itu, warga binaan dengan kasus tertentu seperti narkotika, penipuan, penggelapan dan begal tidak dilibatkan dalam program asimilasi kerja di luar lapas.
“Kami memberikan kesempatan kepada warga binaan yang sudah memenuhi syarat dan memiliki keterampilan di bidang pertanian untuk mengikuti program ini,” katanya.
Melalui program pembinaan tersebut, Lapas Curup berharap warga binaan memiliki bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan saat kembali ke tengah masyarakat. Kemampuan bercocok tanam yang diperoleh selama menjalani masa pidana diharapkan dapat menjadi modal usaha dan sumber penghidupan setelah mereka bebas.
“Harapan kami mereka menjadi terlatih dalam bercocok tanam dan keterampilan itu bisa menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menambah penghasilan dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” tutup Untung. (Jk)






