Pada zaman dahulu kita sering mendengar cerita daerah, kali ini penulis akan mengangkat cerita khusus Kabupaten Kaur yaitu “Sang Senga’uk”, tokoh dan nama ini sering kita dengar saat Tamang (kakek), Bini (Nenek), Bak (ayah), Ibu (mak) dan Uncu, Ceude, Ceuwe, Dang, Wah, Wan, Cik, Ngah dan lain sebagainya. Cerita Sengaruk ini kerap kita dengar saat begabus (bercerita) lebih keperistiwa kejadian waktu itu (lampau) dan dekat sekali yang kita alami saat ini.
Penulis punya maksud dan tujuan, agar cerita ini dibuka ke publik siapa pun boleh membacanya sebagai bahan opini, pembelajaran dan hiburan.
Episode Pertama
~ Senga’uk Sang Raja dan Paling Kaya ~
Jika seseorang Raja biasanya kalau makan pasti menggunakan piring yang terbuat dari keramik atau kaca. Setelah makan, maka piring tersebut harus dicuci agar bisa digunakan esoknya lagi.
Berbeda dengan Senga’uk, jika ia makan menngunakan daun pisang untuk wadah nasi dan lauk. Setelah makan maka piring yang berasal daun pisang tersebut lalu dibuang.
“Kaye lah aku dengan Raje tu, Raje ame makan pakai piring e adu tu dibasuhi agi, ame aku de langsung ku capakan (dibuang),” kata Senggaruk dengan menggunakan Bahasa Kaur.
Sudut pandang Senga’uk mengumpamakan ia kaya lebih kaya dari sang Raja, jika ia makan cukup satu kali pakai lalu dibuang begitu juga sebaliknya dengan sang Raja.
Bersambung…..! nantikan cerita selanjutnya mohon bantuannya share jika berkenan, terima kasih.






