65 Persen Perdagangan Disebut Gunakan Mata Uang Lokal, Dolar AS Tinggalkan BRICS?

Mata Uang Dollar AS. (Foto: dok nb)

Negara-negara yang tergabung dalam BRICS terus mendorong, penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan lintas negara untuk mengurangi dolar AS. Sebuah laporan terbaru menyebutkan, sekitar 65 persen transaksi perdagangan antarnegara BRICS kini menggunakan mata uang lokal.

Sementara, sekitar 35 persen lainnya masih diselesaikan menggunakan dolar AS. Angka tersebut disampaikan, Direktur Pranan Consulting Pradip Dhir dalam laporan yang dikutip Watcher Guru dari EuroSchool India.

“Aliansi BRICS telah menggunakan dolar AS hanya untuk 35 persen perdagangan lintas batas. Sementara 65 persen transaksi lainnya dilakukan menggunakan mata uang lokal,” kata Pradip Dhir sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut dilansir laman Reuters, Minggu, 23 Agustus 2026.

Kajian terbaru mengenai dedolarisasi BRICS juga menunjukkan, proses pengurangan ketergantungan terhadap dolar berlangsung secara bertahap. Dan, hal itu belum merata di antara mata uang negara-negara anggota.

Upaya mengurangi penggunaan dolar dalam perdagangan sebenarnya bukan agenda baru bagi BRICS. Kelompok tersebut selama beberapa tahun terakhir mendorong penyelesaian transaksi menggunakan mata uang masing-masing negara.

Kemudian, memperkuat sistem pembayaran lintas batas dan mengurangi risiko yang muncul akibat ketergantungan terhadap sistem keuangan berbasis dolar. Tiongkok dan Rusia menjadi salah satu contoh paling menonjol dalam penggunaan mata uang lokal untuk perdagangan bilateral.

Yuan dan rubel semakin banyak digunakan dalam transaksi kedua negara. Terutama, setelah perubahan kondisi geopolitik dan sanksi ekonomi terhadap Rusia mendorong pencarian jalur pembayaran alternatif.

India juga mengembangkan penggunaan mata uang lokal dalam sejumlah transaksi perdagangan dengan mitra BRICS. Skema pembayaran dapat melibatkan rupee maupun mata uang pihak lain, termasuk rubel dan dirham, tergantung kesepakatan perdagangan yang digunakan.

Iran juga semakin mengandalkan mata uang non-dolar dalam transaksi internasional. Kondisi tersebut, berkaitan dengan sanksi ekonomi AS yang membuat Teheran memiliki kepentingan lebih besar untuk mengembangkan jalur perdagangan dan pembayaran.
Penggunaan mata uang lokal, bahkan mulai menjadi perhatian dalam perdagangan energi. Tiongkok secara agresif mendorong internasionalisasi yuan.

Termasuk, melalui kesepakatan perdagangan yang memungkinkan transaksi dengan mitra dagang dilakukan tanpa harus selalu menggunakan dolar AS. Perkembangan tersebut, menunjukkan bahwa dedolarisasi BRICS tidak semata-mata berkaitan dengan rencana menciptakan satu mata uang baru.

Fokus yang lebih nyata saat ini adalah memperbanyak transaksi bilateral menggunakan mata uang nasional. Semua itu, demi memperkuat sistem pembayaran alternatif dan membangun infrastruktur keuangan yang dapat mengurangi kebutuhan terhadap dolar AS.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali mengancam, negara-negara BRICS dengan tarif hingga 100 persen. Apabila, mereka berupaya menggantikan dolar AS atau mendukung mata uang alternatif sebagai pengganti dolar dalam perdagangan internasional.

Trump pada Januari 2025, memperingatkan negara BRICS agar tidak membuat mata uang baru maupun mendukung mata uang lain untuk menggantikan dolar AS. Negara yang melakukan langkah tersebut, dapat menghadapi tarif sebesar 100 persen terhadap barang yang masuk ke pasar Amerika Serikat.

Ancaman tersebut menunjukkan, isu dedolarisasi tidak hanya memiliki dimensi ekonomi, tetapi juga berkembang menjadi persoalan geopolitik. Bagi Amerika Serikat, dominasi dolar memberikan keuntungan strategis dalam perdagangan, sistem keuangan dan hubungan ekonomi internasional.

Di sisi lain, negara-negara BRICS memiliki alasan sendiri untuk memperluas penggunaan mata uang lokal. Selain mengurangi biaya konversi, transaksi dalam mata uang nasional dapat membantu negara anggota mengurangi paparan terhadap fluktuasi dolar AS.

Meski prosesnya masih menghadapi berbagai kendala, arah kebijakan BRICS menunjukkan keinginan untuk membangun sistem perdagangan yang lebih beragam. Kajian ekonomi terbaru bahkan menemukan, adanya struktur pasar mata uang semakin multipolar, meskipun pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS masih bersifat parsial.