Oleh: Moch Iqbal*

Bengkulu – Akhirnya UIN Fatmawati Sukarno (Fatsu) hadir di Provinsi Bengkulu. Universitas adalah jenjang tertinggi dari bentuk perguruan tinggi di Indonesia. Sebelum menjadi UIN Fatsu, IAIN Bengkulu sudah melalui tahapan-tahapan sebagai sebuah perguruan tinggi menuju universitas. Sebelum menjadi UIN sekarang ini, kampus yang terletak di Jalan Raden Fatah Pagar Dewa ini sudah melalui perjalanan panjang. Mulai  dari fakultas perintisan 13 September 1963 Yaswa mendirikan Fakultas Ushuluddin di Bengkulu, kemudian 1 juli 1984 tentang operasional lokal jauh fakultas Tarbiyah jurusan Tadris bidang studi IPS IAIN Raden Fatah Palembang.  Menjadi STAIN  atas Keputusan Presiden no 11 tahun 1997 dan keputusan Menteri Agama RI E/25/1997. Menteri Agama RI waktu Tarmizi Taher meresmikan ke 33 STAIN, termasuk STAIN Bengkulu pada tanggal 30 Juli 1997. 25 April 2012 Presiden menandatangani Perpres no 51 tahun 2012 tentang perubahan STAIN menjadi IAIN Bengkulu. Puncaknya tanggal 11 Mei 2021 melalui Perpres no 45 tahun 2021 IAIN dan bertransformasi ke jenjang teringgi yaitu menjadi UIN Fatsu.

Hampir semua lembaga tinggi akan berusaha untuk bisa mencapai tahapan menjadi universitas. Ada beberapa argument perlunya PTKIN bertransformasi menjadi UIN. Pertama, perlunnya pendidikan tinggi Islam memperluas kajian keilmuanya, seluruh lembaga pendidikan tinggi Islam, terutama dalam lingkup kementrian agama membuka prodi-prodi umum yang sebelumnya hanya dimiliki oleh perguruan tinggi umum. Kedua, mengembalikan doktrin awal keilmuan Islam non-dikotomi antara sain dan agama. Dengan transformasi kelembagaan menjadi UIN, peluang integrasi keilmuan antara ilmu-ilmu agama yang kental akan bisa diintegrasikan dengan sain dan teknologi. Ketiga, keharusan sejarah, sesuai dengan semangat zaman, bahwa dunia perguruan tinggi harus lebih terbuka dari berbagai disiplin ilmu baik sain, teknologi maupun agama. IAIN Bengkulu (sebelumnya) sebagai institusi pendidikan tinggi Islam, juga demikian tidak luput dari arus perubahan yang terus bergelombang itu. Terlebih lagi perubahan era digital yang tidak mengenal ‘lelet’, semua harus bergerak cepat. Tuntutan zaman mengharuskan harus terbuka dalam berbagai hal. Kajian keilmuan yang mengisolir diri dari berbagai keilmuan umum, terutama sain dan teknologi harus segera diakhiri. Model keilmuan yang separatif-disintegratif tidak lagi mampu menjawab persoalan yang pesat berkembang.

Peluang Besar

Perguruan tinggi Islam yang mempunyai peluang besar untuk mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya. Baik dalam kontek lokal, regional maupun internasional. Beberapa alasan diantaranya adalah: Pertama, Identitas yang kuat sebagai perguruan tinggi Islam, terutama PTKIN, yang sejak dulu dikenal sebagai tempat belajar agama yang terpecaya. Masyarakat Indonesia yang religius, sangat gemar dengan sesuatu yang berbau agama. Misalnya wisata halal, Bank Syariah, makanan halal dan hal hal lain yang sesuai dengan agama. Terlebih lagi pendidikan, harus sesuai dan berbau agama. Perkembangan lembaga pendidikan pesantren yang pesat, mengindikasikan tingginya minat terhadap bidang agama.

Kedua, 87,13 % masyarakat Indonesia adalah Muslim. Jumlah ini adalah sangat besar. Bahkan di Bengkulu muslim mencapai 95%, betapa dominanya muslim di Bengkulu. Artinya pendidikan yang berbau keagamaan Islam bila dikelola dengan tidak akan mengalami sepi peminat. Jaringan sekolah IT (Islam Terpadu) misalnya, hampir tidak ada yang mengalami kesulitan calon peserta didik. Selalu tinggi peminat, meski dengan biaya sekolah yang relatif tinggi, di banding dengan sekolah pemerintah yang menggratiskan seluruh biaya sekolah.

Ketiga, IAIN dan PTKIN secara umum sudah mempunyai pengalaman dalam mengelola prodi prodi umum. Meskipun perguruan tinggi keagamaan, tidak sedikit prodi prodi umum di dalamnya. Seperti prodi matematika, TIK (teknologi Informasi dan Komputer), IPA, bahasa Inggris dan sebagainya. Demikian juga fakultas ekonomi, tenaga ahlinya banyak tersedia di fakultas ekonomi Islam, fakultas hukum tenaga ahlinya banyak tersedia di fakultas Syariah dan hukum Islam dan fakultas pendidikan tenaga ahlinya banyak tersedia di fakultas Tarbiyah dan Tadris. tersedia tenaga yang melimpah.

Keempat, kondisi sosio-budaya yang kondusif didukung dengan kekayaan dan ragam budaya menjadi pembeda bagi perguruan tinggi Islam di manapun di dunia. Indonesia adalah laboratorium sosial yang sangat melimpah dan unik. Banyak teori-teori sosial besar yang lahir dari keunikan budaya Indonesia. The Religion of Java, ‘magnum opus’-nya Cliffort Geertz adalah ’kitab sucinya’ antropologi agama yang menjadi  rujukan seluruh ilmuan sosial di dunia, adalah lahir dari sebuah Desa di Kediri-Jawa Timur. Masing-masing daerah memiliki karakteristik budaya sendiri, sehingga sangat memperkaya kajian keilmuan semua bidang.  

Terlebih lagi, studi agama semakin diminati oleh overseas scholars (ilmuan mancanegara), PTKIN akan selalu menjadi rujukan dalam studi agama-agama. Bila masing-masing UIN bisa merumuskan keunikan kajian keilmuan masing-masing akan memiliki nilai tawar yang tinggi dalam citra sebuah perguruan tinggi.

Tantangan Besar

Maka memilih menjadi UIN adalah pilihan yang strategis, yang memungkinkan membuka diri dari pesatnya perkembangan sain dan teknologi. Meskipun transformasi menjadi UIN adalah prestasi yang harus dirayakan dan dibanggakan, beberapa tantangan juga harus mendapat perhatian. Yaitu, semakin kompetitif-nya dunia perguruan tinggi, baik tingkat lokal, nasional. regional maupun internasional.

Dalam kontek lokal, beberapa perguruan tinggi besar juga terus berbenah dan memperbaiki diri untuk memperebutkan calon mahasiswa. IAIN Bengkulu relatif diuntungkan dengan statusnya sebagai perguruan tinggi negeri, yang memang hanya ada dua, yaitu Universitas Bengkulu dan IAIN Bengkulu sendiri. Selebihnya adalah perguruan tinggi swasta yang cukup besar. Seperti Universitas Muhammadiyah Bengkulu yang semakin agresif membangun sarana fisik, Universitas Hazairin sebagai salah satu PT tertua di Bengkulu dan Universitas Dehasen.

Keberadaan dua perguruan tinggi negeri ini sekaligus memperkuat stikma bahwa dikotomi keilmuan memang praksis apa adanya. Keilmua Islam diwakili oleh IAIN Bengkulu dan keilmuan umum diwakili oleh Universitas Bengkulu. Atau ada pandangan lain, bahwa IAIN Bengkulu mewakili pendidikan murah, para mahasiswanya identik dengan masyarakat rural culture (masyarakat desa). sedangkan Unib  (Universitas Bengkulu) mewakili pendidikan kelas menengah dan identik dengan masyarakat urban (perkotaan).

Sedangkan pada tingkat kelembagaan, IAIN Bengkulu paling tidak harus memformulasikan beberapa hal, diantaranya

a.    Struktur  keilmuan    IAIN  menuju UIN Fatsu Bengkulu yang memasuki babak baru, yaitu dengan keleluasaan membuka program studi baru, terutama bidang keilmuan umum.

b.    Strategi pengembangan kurikulum IAIN menuju UIN Fatmawati Bengkulu, sehingga menjadi kampus yang kompetitif di tingkat global dalam waktu yang sangat cepat.

c.    Akselerasi Sumberdaya internal maupun maupun pengembangannya dalam jangka menengah dan panjang.

d.    Penguatan  kelembagaan paska alih status menjadi UIN Fatsu Bengkulu, yang memungkinkan bisa bergerak secara leluasa dan progresif.

Antara Harapan dan Kekhawatiran

Tantangan lebih besar sebenarnya terletak pada daya tahan studi Islam terhadap masuknya gelombang keilmuan umum. Terbatasnya simpul-simpul utama peminat studi-studi agama yaitu madrasah dan pesantren, membuat studi agama ‘murni’ seperti prodi-prodi yang ada di fakultas/jurusan ushuluddin rentan sepi peminat. Kekhawatiran yang sama juga terjadi ketika IAIN Sunan Kalijaga/Suka Jogjakarta ketika menjelang alih status menjadi UIN. Banyak dari kalangan ilmuwan internal IAIN Suka yang khawatir tentang masa depan ilmu ilmu agama ‘murni’ seperti yang ada di jurusan Adab, Dakwah dan Ushuluddin.

Sebagaimana yang diceritakan M Amin Abdullah, bahwa setiap terjadi proses “perubahan”, maka kekhawatiran dan kecemasan tidak bisa ditutup-tutupi. Sebelum Senat Institut menyetujui konversi IAIN ke UIN, kekhawatiran dan kecemasan tampak dalam diskusi sidang senat dan lebih-lebih di luar forum sidang senat. Berbagai pertanyaan mulai    muncul ke  permukaan:  bagaimana  nasib  fakultas  Adab, Dakwah, Syari’ah, Tarbiyah dan Ushuluddin? Akankah fakultas-fakultas ini dipinggirkan dan dimarginalkan? Bernasib samakah fakultas-fakultas ini dengan fakultas agama di Universitas  Islam  Indonesia  (UII)  dan  di  lingkungan  Universitas  Muhammadiyah  di seluruh tanah air? Mengapa harus berubah menjadi “Universitas”? Tidak cukupkah dengan nama Institut  seperti  yang  disandangnya selama  53  tahun  (1951-2004)?  Jika  fakultas  atau program studi umum dikembangkan, bagaimana nasib 23 prodi yang  selama  ini telah berjalan? Akankah struktur keilmuan, kurikulum dan silabinya sama dan sebangun dengan sebelum dan sesudah UIN diresmikan? Begitu pula pertanyaan bagaimana struktur mata kuliah, kurikulum dan silabi pada prodi-prodi umum di UIN dan Universitas umum yang lain? Bagaimana pola Pembinaan dan Pengembangan minat dan bakat, keterampilan dan kepribadian mahasiswa? dan berbagai pertanyaan yang lain.

IAIN Suka Jogjakarta kala itu yang relatif tidak akan mengalami kekurangan peminat, khususnya pada jurusan agama ‘murni’ saja mengalami cukup perdebatan dan kegelisahan terkait nasib jurusan jurusan yang menjadi ikon penting dalam institusi pendidikan tinggi Islam, bagaimana dengan IAIN  ‘pinggiran’ atau yang ada di daerah-daerah termasuk Bengkulu.

Sebelum kebijakan alih status IAIN ke UIN berlangsung, kondisi PTKIN di daerah, terutama jurusan yang kental dengan kajian agama, banyak mengalami  ‘sekarat’ terkait daya minat terhadap jurusan-jurusan tersebut yang sangat rendah. Sekolah-sekolah di daerah non Jawa sebagian besar adalah sekolah umum. Berbeda dengan di Jawa, di mana pesantren dan madrasah sebagai penyuplai utama calon mahasiswa pada jurusan keagamaan yang kental tersebut sangat banyak.

Belum lagi calon mahasiswa yang dari luar Jawa, yang terus berbondong-bondong kuliah di kampus-kampus Jawa, akan sangat banyak peminat, meski jurusan jurusan agama yang dianggap kering peminat. Terlebih lagi Jogjakarta, yang memiliki multi-identitas, sebagai kota pelajar, kota pariswisata, kota sejarah, pusat budaya Jawa dan yang lainnya. Semua orang banyak bermimpi bisa kuliah di Jogjakarta. Jurusan apapun yang dibuka, dapat dipastikan tidak akan mengalami sepi peminat.

Melihat kondisi yang demikian, IAIN/UIN Fatsu Bengkulu harus jeli melihat  karakteristik yang menempel kuat pada dirinya, sehingga menjadi pembeda sekaligus menjadi keunggulan dan nilai tawar dibandingkan dengan PTKIN atau kampus-kampus lainnya. Yang tidak kalah penting adalah menghilangkan kegamangan dari para elit muslim dan menanggalkan beban politis ideologis masa lalu, sekat-sekat faksi organisasi dan fokus pada pertimbangan pedagogis, riset dan  akademis. Bila hal tersebut dilakukan, UIN Fatsu Bengkulu dalam waktu yang tidak lama, akan menjadi kampus yang terkemuka di Indonesia.

*Dosen UIN Fatsu Bengkulu*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here