Deni Setiawan : Dewan Kaur Kebiasaan Interupsi saat Rapat Paripurna Berlangsung!

Kaur – Anggota DPRD Kaur Deni Setiawan, SH mengkritik ulah rekannya sendiri, saat rapat paripurna berlangsung.

Saat itu (rapat paripurna berlangsung), Anggota Dewan Irwanto Tohir dan Rismadi meminta interupsi, supaya suara mereka didengar oleh masyarakat.

Perlu diketahui, Irwanto menceritakan peristiwa tabrakan di desanya. Dan Rismadi sendiri, mengeluhkan pelayanan puskesmas Tanjung Kemuning yang kurang baik, serta meminta pihak Dinas Kesehatan Kaur melakukan rotasi dokter di Puskesmas tersebut.

Menurut Deni, interupsi saat rapat paripurna berlangsung itu boleh. Tapi, sesuai pembahasan. “Kalau mau interupsi sesuai pembahasan Bapemperda ini, bukan keluar konteks. Kalau ada aspirasi warga yang ingin disampaikan, nanti kita bahas di rapat khusus saja,” ungkap Deni, kader partai Demokrat itu, pada senin, 10:00 WIB, (04/04).

Nanti pembahasan kita ini tidak selesai, lanjut Deni. Ia menilai, sikap rekannya itu baik tetapi tidak pada tempatnya. “Di pembahasan lain saja, nanti kita bicarakan. Sekalian undang rekan-rekan media dan dinas terkait, ” imbuhnya lagi.

“Buk ketua, silahkan rapat dilanjutkan. Kebiasaan saat rapat paripurna ini berlangsung dikit-dikit interupsi (memotong pembicaraan ketua saat menyampaikan pidato), nanti kebiasaan ini berlanjut. Silahkan buk ketua lanjutkan ke pembahasan selanjutnya, yaitu laporan pembahasan LKPJ Kaur tahun 2021,” tegas Deni, kepada rekan anggota Dewannya sendiri, supaya mengikuti perintah Ketua DPRD Kaur Diana Tulaini agar paripurna tersebut berjalan lancar.

Sebagai informasi, anggota Dewan Irwanto Thohir sering sekali interupsi memotong pembicaraan ketua DPRD Kaur Diana Tulaini saat rapat. Ia tak segan-segan, bahkan berbicara lantang menyampaikan aspirasi warganya.

Apalagi soal remang-remang yang ada di Desa Sulau Wangi yang tak kunjung “Terkabulkan” Kehancurannya itu. Bahkan, semenjak dirinya dilantik ia selalu meminta tempat hiburan di Sulau Wangi itu hampir setiap rapat, nama remang-remang sulau wangi di dapilnya itu selalu ia bicarakan agar satpol-pp ‘menghancurkan’ supaya tidak ada lagi tempat perzinaan di Kaur.

Bagaimana nasib remang-remang di Desa Sulau Wangi yang tak kunjung ‘binasa’ dari bumi Se’ase Seijean? nantikan berita selanjutnya ya ges dan banyak infomasi menarik lainnya. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.