Upaya pelestarian orangutan lintas negara kembali diperkuat melalui kemitraan antara Taman Safari Indonesia (TSI) dan Jepang. Kerja sama tersebut diwujudkan dalam program cooperative breeding yang difokuskan pada pengelolaan genetik dan pengembangbiakan terkontrol orangutan di lembaga konservasi.
Penguatan kolaborasi ini ditandai dengan kunjungan Gubernur Prefektur Ehime, Jepang, Tokhiro Nakamura, ke kawasan Taman Safari Indonesia Cisarua, Bogor, pada Jumat, 16 Januari.
Rombongan pemerintah Prefektur Ehime disambut langsung oleh Founder TSI, Jansen Manansang, bersama jajaran manajemen.
Melalui kerja sama ini, TSI bekerja sama dengan Tobe Zoo di Jepang untuk memastikan keberlanjutan populasi orangutan yang berada di luar habitat alaminya. Jansen Manansang menyebutkan, program tersebut dirancang untuk menjaga kualitas genetik orangutan sekaligus mendukung konservasi global spesies yang terancam punah.
“Program ini berbasis kerja sama antar kebun binatang. Indonesia berperan membantu melalui skema peminjaman satwa agar populasi orangutan di Jepang tetap sehat secara genetik dan dapat berkembang secara berkelanjutan,” kata Jansen.
Ia menambahkan, kolaborasi Indonesia–Jepang tidak hanya berfokus pada pengembangbiakan satwa, tetapi juga mencakup aspek riset dan penguatan kapasitas. Pertukaran pengetahuan, teknologi, serta sumber daya manusia, seperti keeper, dokter hewan, dan pakar konservasi, menjadi bagian penting dalam kemitraan tersebut.
Salah satu implementasi nyata kerja sama ini adalah pengiriman orangutan betina bernama Jennifer dari Indonesia ke Jepang pada November 2025. Jennifer, yang berasal dari Kalimantan, direncanakan menjadi pasangan bagi orangutan jantan bernama Hayato di Tobe Zoo. Keduanya berada pada usia reproduktif, sekitar 10 hingga 15 tahun.
Gubernur Prefektur Ehime, Tokhiro Nakamura, menyampaikan bahwa saat ini Jennifer masih menjalani masa adaptasi di fasilitas khusus dan belum dipertontonkan kepada publik. Menurutnya, kondisi cuaca dingin di Jepang menjadi pertimbangan utama dalam proses penyesuaian tersebut.
“Jennifer dipantau selama 24 jam oleh para keeper. Kondisinya stabil, sehat, dan nafsu makannya baik. Kami memilih untuk tidak terburu-buru agar proses adaptasi berjalan optimal,” ujar Nakamura.
Pertemuan Jennifer dan Hayato direncanakan dilakukan secara bertahap mulai Mei, seiring dengan meningkatnya suhu udara. Pihak Tobe Zoo juga telah menyiapkan kandang baru yang disesuaikan dengan kebutuhan biologis dan perilaku orangutan.
Dari sisi pemerintah Indonesia, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, menilai kerja sama ini sebagai bagian dari diplomasi konservasi. Menurutnya, pemanfaatan satwa liar dalam kerangka kerja sama internasional dapat memperkuat hubungan bilateral sekaligus mendukung upaya pelestarian.
“Skema yang digunakan adalah breeding loan, sehingga status kepemilikan satwa tidak berpindah. Orangutan dan keturunannya tetap menjadi milik Indonesia,” jelas Munawir.
Ia juga menyebutkan bahwa Prefektur Ehime berkomitmen memberikan kontribusi bagi konservasi orangutan di Indonesia, baik melalui dukungan pada lembaga konservasi maupun di habitat alaminya.
Dengan kerja sama ini, Indonesia dan Jepang tidak hanya memperkuat upaya perlindungan orangutan, tetapi juga menegaskan komitmen bersama dalam konservasi satwa liar sebagai bagian dari tanggung jawab global.






