Tumpukan sampah menggunung dan membentang luas di TPA Sebakul. Setiap hari, puluhan truk pengangkut datang silih berganti, membawa limbah dari berbagai sudut Kota Bengkulu. Sampah-sampah itu diturunkan begitu saja, membentuk gundukan besar yang terus meninggi tanpa pengelolaan yang memadai. Bau menyengat menyelimuti udara, menjadi ciri khas yang melekat di kawasan ini.
Namun, di balik pemandangan tersebut, TPA Sebakul bukan sekadar tempat pembuangan akhir. Bagi sebagian orang, lokasi ini justru menjadi ruang hidup dan sumber penghidupan. Para pengepul dan pemulung menggantungkan hidup dari barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual.
Aktivitas di kawasan ini berlangsung tanpa henti. Ketika truk datang dan menurunkan muatan, para pemulung segera bergerak. Dengan langkah cepat dan sigap, mereka menyusuri tumpukan sampah untuk mencari plastik, botol, hingga logam bekas yang masih dapat dimanfaatkan. Pemandangan ini menjadi rutinitas harian yang terus berulang.
Di tengah hamparan sampah, para pengepul bekerja dengan peralatan sederhana. Mereka mengenakan pelindung seadanya, berhadapan langsung dengan bau menyengat serta risiko kesehatan yang tidak ringan. Meski demikian, aktivitas ini tetap dijalani dengan penuh ketekunan. Setiap gerakan dilakukan dengan cermat, seolah sudah terbiasa membaca peluang dari tumpukan yang bagi sebagian orang dianggap tidak bernilai.
Bagi mereka, sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber penghasilan. Plastik, botol, dan besi bekas yang terkumpul akan dipisahkan dan dimasukkan ke dalam karung besar. Proses pemilahan dilakukan dengan teliti untuk memastikan barang yang dikumpulkan memiliki nilai jual.Di sudut lain, aktivitas serupa juga berlangsung dalam kelompok kecil. Para pengepul bekerja sama mengumpulkan dan memilah sampah yang berserakan. Tanpa arahan formal, ritme kerja terbentuk secara alami. Setiap orang memahami perannya masing-masing, menciptakan sistem kerja yang berjalan secara mandiri di tengah keterbatasan.
Suasana hiruk pikuk kendaraan pengangkut yang keluar masuk tidak mengganggu konsentrasi mereka. Sebaliknya, kehadiran truk justru menjadi tanda datangnya “sumber baru” yang bisa dimanfaatkan. Dari sinilah terlihat bahwa di balik tumpukan sampah, terdapat dinamika sosial yang hidup dan terus bergerak.
Setelah seharian bekerja, hasil pengumpulan dibawa ke tempat penimbangan sederhana di sekitar area TPA. Karung-karung berisi barang bekas disusun dan ditimbang sebelum dijual kepada pengepul yang lebih besar. Proses ini menjadi tahap akhir dari rangkaian aktivitas mereka.
Dari hasil tersebut, para pemulung memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski jumlahnya tidak besar, setiap kilogram barang bekas memiliki arti penting bagi keberlangsungan hidup mereka. Aktivitas ini sekaligus menunjukkan adanya rantai ekonomi kecil yang terbentuk dari lingkungan TPA, menghubungkan masyarakat dengan industri daur ulang.
Kondisi di TPA Sebakul menggambarkan dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, tumpukan sampah mencerminkan persoalan lingkungan yang belum terselesaikan. Di sisi lain, keberadaan sampah justru menjadi penopang kehidupan bagi sebagian masyarakat.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa isu lingkungan tidak hanya berkaitan dengan pencemaran dan pengelolaan limbah, tetapi juga menyangkut aspek sosial dan ekonomi. TPA Sebakul menjadi bukti bahwa di balik persoalan sampah, terdapat realitas kehidupan yang kompleks tentang bertahan hidup, memanfaatkan sisa, dan menemukan nilai di tengah keterbatasan.
Penulis: Zenia Aurelia, Program Studi Jurnalistik, Universitas Negeri Bengkulu (UNIB)






